Rekonstruksi Independensi Hakim dalam Era Digitalisasi Peradilan Pidana di Indonesia

Authors

  • Firda Laily Mufid Universitas Jember
  • M. Yusuf Universitas Jember
  • Irwan Effendi Universitas Jember

DOI:

https://doi.org/10.62383/humif.v2i4.2495

Keywords:

Court Digitalization, Criminal Justice System, Judicial Independence, Rule of Law, Substantive Justice

Abstract

The advancement of information technology has profoundly transformed the criminal justice system, particularly in judicial proceedings that now utilize digital platforms such as e-court and e-litigation. Although judicial digitalization aims to enhance efficiency and transparency, it simultaneously raises critical concerns regarding judicial independence in the exercise of adjudicative authority. This study employs a normative juridical approach to examine how digital transformation affects the principle of judicial independence and to reconstruct its concept in accordance with the rule of law. The analysis is based on statutory regulations, legal doctrines, and principles governing judicial power. The findings indicate that the integration of technology into judicial processes may create administrative and technological dependencies that potentially undermine the autonomy of judges in deciding criminal cases. Therefore, a redefinition of judicial independence is necessary—one that extends beyond institutional guarantees to include ethical and personal integrity aspects through the reinforcement of judicial accountability and technological transparency. This study recommends the formulation of ethical standards and technical regulations that explicitly limit administrative or external interference with judges in the digital judicial environment, thereby maintaining a balance between technological efficiency and substantive justice.

References

Andari, Y. (2023). Kemandirian hakim dan netralitas teknologi dalam peradilan digital. Jurnal Konstitusi, 19(3), 431–445.

Arief, B. N. (2018). Masalah penegakan hukum dan kebijakan hukum pidana dalam penanggulangan kejahatan. Jakarta: Kencana.

Arief, B. N. (2018). Masalah penegakan hukum dan kebijakan hukum pidana. Jakarta: Kencana.

Asshiddiqie, J. (2009). Kebebasan hakim dan independensi peradilan. Jakarta: Konstitusi Press.

Asshiddiqie, J. (2019). Kebebasan hakim dan independensi kekuasaan kehakiman. Jakarta: Konstitusi Press.

Asshiddiqie, J. (2020). Konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Bagir, M. (2020). Kemandirian kekuasaan kehakiman di Indonesia. Bandung: Alumni.

Brownsword, R. (2020). Law, technology and society: Reimagining the regulatory environment. Oxford: Routledge.

Cath, C. (2018). Governing artificial intelligence: Upholding human rights & values. European Journal of Law and Technology, 9(3), 1–18.

Harahap, M. Y. (2020). Hukum acara pidana: Teori dan praktik. Jakarta: Sinar Grafika.

Harahap, M. Y. (2020). Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP: Pemeriksaan sidang pengadilan, banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Jakarta: Sinar Grafika.

Kania, D. (2022). Transformasi digital dan tantangan independensi hakim. Jurnal Ius Quia Iustum, 29(1), 77–90.

Komisi Yudisial Republik Indonesia. (2022). Laporan tahunan KY: Etika dan independensi hakim di era digital. Jakarta: KY RI.

Lilik, M. (2021). Implikasi digitalisasi terhadap independensi hakim. Jurnal Peradilan Indonesia, 8(1), 45–61.

Luthfi, W. E. (2022). Reformasi peradilan dan teknologi informasi. Yogyakarta: FH UII Press.

Mahkamah Agung Republik Indonesia & Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK). (2023). Laporan penelitian: Tantangan etika hakim dalam era digitalisasi peradilan. Jakarta: MA RI–PSHK.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2010). Cetak biru pembaruan peradilan 2010–2035. Jakarta: MA RI.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2021). Pedoman implementasi e-litigation 2021. Jakarta: MA RI.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2021). Pedoman pelaksanaan persidangan pidana secara daring. Jakarta: MA RI.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2024). Laporan tahunan Mahkamah Agung 2023: Menuju peradilan digital berkeadilan. Jakarta: MA RI.

Muladi. (2002). Demokrasi, hak asasi manusia, dan reformasi hukum di Indonesia. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.

Nurul, Q. (2020). Akses terhadap keadilan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Makassar: Pustaka Pena.

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik.

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Tata Kelola Teknis Peradilan.

Rahardjo, S. (2019). Hukum dan perubahan sosial. Bandung: Alumni.

Rahardjo, S. (2019). Hukum progresif: Sebuah sintesa hukum Indonesia. Yogyakarta: Genta Publishing.

Suharyanto. (2020). Efisiensi dan transparansi melalui implementasi e-court di Indonesia. Jurnal Hukum dan Pembangunan, 50(2), 215–230.

Susskind, R. (2019). Online courts and the future of justice. Oxford: Oxford University Press.

United Nations. (1985). Basic principles on the independence of the judiciary (UN Document A/CONF.121/22/Rev.1). New York, NY: United Nations.

Yeung, K. (2018). Algorithmic regulation: A critical interrogation. Regulation & Governance, 12(4), 505–523.

Downloads

Published

2025-10-30

How to Cite

Firda Laily Mufid, M. Yusuf, & Irwan Effendi. (2025). Rekonstruksi Independensi Hakim dalam Era Digitalisasi Peradilan Pidana di Indonesia. Hukum Inovatif : Jurnal Ilmu Hukum Sosial Dan Humaniora, 2(4), 114–125. https://doi.org/10.62383/humif.v2i4.2495

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.