Hubungan Pekerjaan dan Pendidikan dengan Kejadian TB Paru di Kota Kupang

Authors

  • Ni Putu Ayu Natalia Dewi Universitas Bali Internasional
  • Ni Made Susilawati Poltekkes Kemenkes Kupang

DOI:

https://doi.org/10.62383/ikg.v1i4.1231

Abstract

Tuberculosis is an infection disease caused by Mycobacterium tuberculosis and most often infects the lungs. Pulmonary TB cases in Indonesia are the third largest in the world. NTT province occupies the 15th position out of 34th in Indonesia. Kupang city ranks first with the highest incidence of pulmonary TB in NTT. One of the factors that influence pulmonary TB is occupation and education level. This study aims to determine the differences in pulmonary TB incidence based on occupation and education level in Kupang City in 2021. This research was conducted at a health center in Kupang City, experimentally with a cross-sectional design, from March until May 2022. The research sample is secondary data of pulmonary TB patients with a total sample of 395 cases with a sampling technique that is total sampling. The result showed that there was no difference in the incidence of pulmonary TB based on occupation where p = 0,958 (p > 0,05) and there was a difference based on education level where p = 0,048 (p< 0,05). Further research is conducted to strengthen the effect of work and education level on the incidence of pulmonary TB.

 

Keywords:

References

Andayani, S. (2020). Prediksi kejadian penyakit tuberkulosis paru berdasarkan jenis kelamin. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 8(2), 135–140.

Anggreani, I. W. N., Sudarsono, T. A., Kusuma Wardani, D. P., & Rahaju, M. (2023). Pengaruh pemberian obat anti tuberkulosis (OAT) terhadap jumlah trombosit pada pasien TB paru di BKPM Purwokerto. Jurnal Surya Medika, 9(3), 92–100.

Ardianti, D. S. (2020). Analisis epidemiologi kejadian tuberkulosis di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2015 sampai 2019. Universitas Muhammadiyah Pontianak.

Dotulong, J. F. J., Sapulete, M. R., & Kandou, G. D. (2015). Hubungan faktor risiko umur, jenis kelamin, dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit TB paru di Desa Wori Kecamatan Wori. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropis, 3(2), 57–65.

Fei, C. M., Zainal, H., & Hyder Ali, I. A. (2018). Evaluation of adverse reactions induced by anti-tuberculosis drugs in Hospital Pulau Pinang. Malaysian Journal of Medical Sciences, 25(5), 103–114.

Gelaw, Y., Getaneh, Z., & Melku, M. (2021). Anemia as a risk factor for tuberculosis: A systematic review and meta-analysis. Environmental Health and Preventive Medicine, 26(1), 1–15.

Hadifah, Z., Manik, U. A., Zulhaida, A., & Wilya, V. (2017). Profil penderita tuberkulosis paru di tiga Puskesmas wilayah kerja Kabupaten Pidie Propinsi Aceh. Sel Jurnal Penelitian Kesehatan, 4(1), 31–44.

Inaya, F., & Sagita, S. (2020). Hubungan peran pengawas menelan obat terhadap keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis paru di Kota Kupang. Cendana Medical Journal, 206–213. Retrieved from http://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/3490

Isra Miharti. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Pamenang tahun 2021. SEHATMAS Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 1(3), 301–308.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Tata Laksana Tuberkulosis.

LITBANG BADAN KESEHATAN, LEMBAGA PENERBIT. (2018). Laporan Riskesdas NTT TH 2018 [Internet]. Lembaga Penerbit Litbang Badan Kesehatan. Retrieved from http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/lpb/article/view/3654

Nurjana, M. A. (2015). Faktor risiko terjadinya tuberkulosis paru usia produktif (15–49 tahun) di Indonesia. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 25(3), 163–170.

Putri, J. A. (2015). Hubungan pengetahuan dan tingkat pendidikan PMO (Pengawas Minum Obat) terhadap kepatuhan minum obat antituberkulosis pasien TB paru. Majority, 4(8), 81–84. Retrieved from http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/1478/1317

Simon Sani Kleden, S., Sabinus Bungaama Kedang, S., Yustinus Rindu, Y., Dominggos Gonsalves, D., Fransiskus Salesius Onggang, F., & Christina Grasia Kellen, C. (2024). Pembentukan District Based Public-Private Mix dalam program penanggulangan TBC di Kota Kupang. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 525–532.

Susilawati, N. M., Octrisdey, K., & Fransiska. (2023). Prevalensi penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Oekabiti Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang periode 2017-2020. Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 2(1), 49–53.

Susilo, A., Hasbi, H. A., Sunaryanti, S. S. H., Sunarno, R. D., & Anggraeni, T. (2023). Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Muhammadiyah Selogiri. Avicenna Journal of Health Research, 6(1), 120–127.

Sutriyawan, A., Nofianti, N., & Halim, R. (2022). Faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 4(1), 98–105.

Ulfah, U., Windiyaningsih, C., Abidin, Z., & Murtiani, F. (2018). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat pada penderita tuberkulosis paru. Indonesian Journal of Infectious Disease, 4(1).

World Health Organization. (2019). Are updated every year for the tuberculosis. Global Tuberculosis Report, 1–2.

World Health Organization. (2022). Global Tuberculosis Report. World Health Organization.

Wulandari, D., Putri, J. A., & Widiyanto, A. (2015). Hubungan kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pasien tuberkulosis paru BTA positif di Puskesmas Delanggu Kabupaten Klaten. Majority, 2(1), 81–84. Retrieved from http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/1478/1317

Downloads

Published

2024-11-30

How to Cite

Ni Putu Ayu Natalia Dewi, & Ni Made Susilawati. (2024). Hubungan Pekerjaan dan Pendidikan dengan Kejadian TB Paru di Kota Kupang. Inovasi Kesehatan Global, 1(4), 139–148. https://doi.org/10.62383/ikg.v1i4.1231